image_pdfimage_print

Jakarta (transversalmedia) – Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati kembali menjelaskan soal belum turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri. Padahal  bulan April 2020 lalu,  harga minyak dunia sempat jatuh ke titik terendah.

Nicke menjelaskan, biaya impor minyak mentah selama ini memang lebih murah dibandingkan produksi BBM di dalam negeri. Namun, ketika terjadi wabah Corona yang meluas dan diiringi oleh lockdown atau penutupan sejumlah wilayah, importasi minyak mentah dikhawatirkan hanya akan membuat kebergantungan dengan negara lain semakin besar.

Lebih jauh, Nicke menyebutkan, membangun industri migas selama ini intinya bukan sekadar mencari keuntungan. Jauh lebih penting dari itu, menurut dia, adalah mencoba membangun kemandirian bangsa terhadap energi.

baca juga:  Rawan Konflik Pilbup, KPU Kabupaten Mojokerto Gandeng IDI

“Lebih untung kalau kita impor semuanya, kita tutup kegiatan usaha di hulu. Tapi kan tidak, kita harus melihat ke depan, jangka panjang, harus ada kemandirian energi,” ujar Nicke dalam sesi diskusi daring, Senin, (15 Juni 2020).

Selain itu, Nicke menjelaskan, bila harga BBM secara tiba-tiba diturunkan, dikhawatirkan dalam waktu harga minyak dunia akan berbalik naik. Bila perekonomian dunia sudah menunjukkan pemulihan dan harga minyak dunia sudah mulai merangkak naik, saat itu pula Pertamina tak bisa serta merta menurunkan harga BBM.

Nicke juga menepis anggapan ketika harga minyak mentah naik, Pertamina selama ini dengan cepat menaikkan harga BBM. Yang terjadi selama ini, menurut dia, Pertamina menunggu dan melihat langkah negara lain selama tiga bulan sebelum memutuskan menaikkan ataupun menurunkan harga BBM.

baca juga:  Proyek Jargas Dinilai Tidak Sesuai Standart dan Keselamatan

“Siapa bilang ketika harga minyak naik, Pertamina langsung menaikkan harga? Kami akan menunggu tiga bulan. Kita juga melihat negara lain,” tutur Nicke seperti dikutip Tempo.

(Tem)

image_pdfimage_print

Silahkan komentar dengan login FB