image_pdfimage_print

Mojokerto (transversalmedia) – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy melakukan peninjauan di perusahaan pengelola limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Selasa (16/2/2021).

Rombongan dari Menteri PMK tiba di PT PRIA sekitar pada pukul 13.30 WIB dengan di dampingi Plt Sekda Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin. Tampak Muhadjir mengenakan baju putih lengan panjang dan celana hitam serta topi warna hitam.

Mantan Menteri Pendidikan bersama Manajer PT PRIA Mujiono, dan Didik Chusnul Yakin melihat langsung ruang pengolaan limbah dengan memakai baju hazmat, bermasker, pelindung kepala dan kacamata. “Kedatangan saya ke sini (PT PRIA) untuk melihat langsung pengelolaan limbah di masa pendemo. Apa saja kendalanya”, ujarnya kepada awak media.

baca juga:  Pembentukan Pansus Corona di Paripurnakan 19/8/2020

Menurutnya, PT PRIA merupakan pabrik pengelola limbah terbesar untuk Indonesia bagian timur. “Kapasitas bisa 1000 ton per jam karena ada dua mesin isinerator yang bekerjanya 24 jam dan dia (PT PRIA) bisa mengcover limbah medis seluruh wilayah Indonesia bagian timur,” katanya.

Muhadjir juga menjelaskan, pada masa Pandemi Covid-19 ini ada kenaikan limbah medis sampai empat kali lipat dibanding sebelumnya. “Tadi saya sudah diskusi untuk memahami lebih jauh kira-kira apa saja hal-hal yang harus diperbaiki dalam kaitan limbah medis. Adanya wabah Covid-19 ini ada kenaikan empat kali lipat limbah medis dibanding sebelumnya,” bebernya.

(Menko PMK) Muhadjir Effendy melakukan peninjauan di perusahaan pengelola limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Selasa (16/2/2021).

Dengan demikian, lanjutnya, harus ada pemikiran serius dalam pengolaan limbah medis dengan mendirikan pabrik pengelohan limbah medis di tempat terpencil. “Kendalanya ada pada perizinan. Izinnya harus dipermudah. Nanti kita koordinasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Kita khawatir nanti limbah medis dibuang begitu saja tanpa ada tanggung jawab”, terangnya.

baca juga:  Berantas Tuberkulosis dengan Gemar Bertasbi

Terpisah, Manajer PT PRIA Mujiono mengatakan, di masa pandemi ini limbah medis mengalami peningkatan yang cukup signifikan .”Rata-rata limbah yang dikelola PT PRIA antara 20 hingga 25 ton per hari, termasuk limbah medis di dalamnya. Untuk limbah medis mengalami kenaikan cukup signifikan”, katanya.

(Gon/Tim)

image_pdfimage_print

Silahkan komentar dengan login FB