Mojokerto (transversalmedia) – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) selalu identik dengan suatu tempat yang kotor, busuk dan menjijikkan. Namun hal ini sangat beda dengan  apa yang dialami TPA Randegan, Kelurahan Kedundung, Magersari, Kota Mojokerto.  TPA ini justru  menjadi kunjungan para siswa dari berbagai sekolah untuk mendapatkan  edukasi mengenai pengolahan sampah. 

TPA Randegan ini  dikenal sudah sejak lama, karena tempatnya yang bersih, TPA ini pula menjadi sarana pendidikan untuk menciptakan generasi yang  cinta dan peduli dengan kebersihan lingkungan. TPA Randegan sudah berdiri selama 28 tahun selanjutnya direnovasi sejak tahun 2016. 

Pengawas Lapangan Petugas Kebersihan Jalan, Saluran dan Selokan DLH kota Mojokerto sekaligus guide TPA Randegan, Marjuki SP dengan didampingi Sekretaris DLH Kota Mojokerto Drs. Dwi Agus Hari Wibowo, MM menjelaskan terkait maksud dan tujuan pengunjung.

“Sebenarnya pengunjung disini rata-rata siswa sekolah mulai dari siswa taman kanak-kanak maupun siswa sekolah dasar dan siswa SMP. Dalam satu minggu minimal tiga pengunjung. Dengan tujuan untuk memperoleh ilmu tentang pengolahan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan supaya lingkungan bersih”, katanya. 

Marjuki menuturkan kepada pihak guru agar  meminta kepada siswa membuat makalah tentang pengolahan sampah, daur ulang dan 3R reduce (mengurangi sampah), reuse (menggunakan ulang sampah) , dan recycle (daur ulang sampah). “Dan itu nantinya arahnya SD, SMP ke adiwiyata semua dan mereka belajarnya pengolahan sampah ada di TPA”, tuturnya.

Dijelaskan, di TPA itu sendiri ada bagian-bagian yang penting yaitu bank sampah induk dan mereka nanti diberikan pembelajaran secara khusus.

“Cara mereka menjual itu sampah plastik dan lain-lain itu harga ada disitu. Terus kalau SMP itu membuat makalah jadi pengolahan sampah di kota Mojokerto itu gimana sih ?, mulai dari sumbernya pengolahan sampah di TPA dan saya yang memberi materi”, jelasnya. 

Selain itu TPA juga ada pengembangan pengolahan sampah, yaitu  ada pengolahan daur ulang dan pembuatan pupuk kompos. Ditambah lagi pupuk organik dimana pupuk larinya ke maggot. Yang pastinya pihak siswa diajarkan sekolah membuang sampah tidak langsung ke TPA melainkan kelola sendiri. “Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk kompos sedangkan lainnya bisa dibuat budidaya maggot dan itu bisa menghasil rupiah atau cuan’, pungkasnya.

(Gon)