Beranda Politik dan Pemerintahan <strong>Musrenbangkel, Pemkot Mojokerto Sudah Siap Atasi Sampah</strong>

Musrenbangkel, Pemkot Mojokerto Sudah Siap Atasi Sampah

0
<strong>Musrenbangkel, Pemkot Mojokerto Sudah Siap Atasi Sampah</strong><br />
<b>Deprecated</b>:  strip_tags(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in <b>/home/transver/public_html/wp-content/themes/Newsmag/loop-single.php</b> on line <b>60</b><br />
Ning Ita Memborong dagangan kube hasil pelatihan Inkubasi mandiri
Ning Ita Memborong dagangan kube hasil pelatihan Inkubasi mandiri

Mojokerto (transversalmedia) – Peningkatan perekonomian di kota Mojokerto, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari memilih sektor pariwisata, “Itulah kenapa kita berbenah untuk infrastruktur. Aksesibilitas atau keterhubungan dengan semua wilayah harus nyambung, mudah, dan layak”, katanya.

Hal itu dikatakan Walikota Mojokerto yang akrab dipanggil Ning Ita saat membuka acara kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan kelurahan (Musrebangkel) di ruang pertemuan kantor Kelurahan Gedongan, kecamatan Magersari, kota Mojokerto. jalan Gedongan Gang 3 No. 24, Kamis (19/1/2023). 

Tampak hadir dalam giat tersebut, antara lain Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, Kepala Bapedalitbang Agung Moeljono SH MH, Kepala DPUPR PRKP Mashudi SE MSi, Camat Magersari Soegeng Rijadi Prajitno SH, dan Lurah Gedongan Rizal Arsyad SE.

Selain aksesibilitas, lanjutnya, bagaimana ekosistem pariwisata terbentuk. “Masyarakatnya harus sadar betul. Sebagai daerah pariwisata itu harus bagaimana masyarakatnya. Harus bagaimana ketika banyak orang datang ke kota Mojokerto. Bagaimana menyambut mereka agar tidak kapok datang ke kota Mojokerto”, ujarnya.

Masih kata Ning Ita, poin utama di tingkat kebersihan maka perlunya tanggung jawab bersama. “Kebersihan tidak bisa hanya menjadi tugas pemerintah. Tetapi, harus disadari oleh seluruh masyarakat”, jelasnya.

Dijelaskan bahwa tempat pembuangan akhir (TPA) Randegan dengan luas enam hektar saat ini sudah hampir penuh. “Lalu kalau sudah penuh, kemana membuang sampah. Untuk perluasan, sudah tidak ada lahan lagi,” ungkapnya

Orang nomor satu ini memberikan solusi untuk mengatasinya hal ini, pemerintah sudah memfasilitasi masyarakat mengambil tindakan. “Fasilitas yang diberikan pemerintah berupa anggaran”, imbuhnya.

Ning Ita mengingatkan jika Pemkot Mojokerto punya Program Bayar Pajak Pakai Sampah di Kota Mojokerto (Bapak Samerto). Program ini merupakan program yang sangat baik dalam mengatasi persoalan sampah. “Hanya saja dalam dua tahun pandemi Covid-19 ini terjadi penurunan”, tuturnya.

Untuk itu, dalam kaitannya mewujudkan program pariwisata dimana TPA sudah penuh, Ning Ita meminta Program Bapak Samerto dihidupkan kembali. “Harus dipilah. Harus diaktifkan kembali Bank Sampah. Dari sampah anorganik inilah yang bernilai ekonomi untuk membayar pajak”, pintanya.

Kemudian, sampah organik atau sampah basah ini yang selama ini dibuang ke TPA dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot. “Di kelurahan Prajuritkulon itu ada salah satu inovasi yang juara nasional, yang mengantarkan kota Mojokerto sebagai kota terinovatif, yakni budidaya maggot”, ungkapnya.

Terkait budidaya maggot, lanjutnya, selain bernilai ekonomi, adalah membantu pengurangan sampah organik karena makanan maggot adalah sampah basah. “Saya minta di kelurahan Gedongan ini juga digalakkan budidaya maggot. Apalagi maggot ini sebagai makanan unggas dan ikan. Jadi, sangat bermanfaat bagi KUBE budidaya ayam dan ikan”, pungkasnya.

Pada kesempatan acara kegiatan ini, juga digelar bazar produk UMKM. Produk UMKM yang digelar merupakan produksi dari KUBE Kelurahan Gedongan yang merupakan jebolan dari Inkubasi Wirausaha yang selama ini getol dilaksanakan Pemkot Mojokerto. Setelah mengakhiri acara, Ning Ita langsung memborong dagangan KUBE tersebut.

(Gon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here