Beranda Politik dan Pemerintahan Gus Halim Kagum Sosok Riyanto, Pahlawan Toleransi

Gus Halim Kagum Sosok Riyanto, Pahlawan Toleransi

0
Gus Halim Kagum Sosok Riyanto, Pahlawan Toleransi

Mojokerto (transversalmedia) – Riyanto merupakan pahlawan Kemanusiaan dan Toleransi Antar umat beragama dari unsur barisan serbaguna nahdlatul ulama (Banser NU) karena menyelamatkan ratusan nyawa dari bom malam Natal 24 Desember 2000 gereja Eben Ezer di kota Mojokerto.

Ia pun sangat dikagumi oleh tokoh umat beragama yang ada di Indonesia. Sabtu sore (6/1/2024), Ketua DPW PKB Jawa Timur Abdul Halim Iskandar melakukan lawatan ke rumah kediaman almarhum Riyanto di jalan Prajuritkulon Gang Baru. Dijelaskan, silaturahmi ini merupakan bentuk rasa simpatik serta kekaguman atas aksi heroik yang dilakukan kader Banser Nahdlatul Ulama (NU) itu.

“Riyanto adalah sosok yang rela berkorban. Berkat keberaniannya itu ia telah menyelamatkan banyak jiwa”, katanya.

Riyanto merupakan anggota banser yang gugur saat membantu menjaga keamanan perayaan Natal di Gereja Eben Haezer, Kota Mojokerto, 24 Desember 2000. Saat itu, Riyanto menemukan bungkusan plastik berisi bom.

Riyanto dilahirkan di Mojokerto pada tanggal 19 November 1976 kemudian berlari sambil mendekap bom tersebut ke luar gereja. Namun bom tersebut meledak dan menewaskan pemuda yang wafat di usia 25 tahun itu.

Sementara, Ketua DPC PKB Kota Mojokerto Junaedi Malik mengatakan, Riyanto merupakan bukti nyata jika PKB konsisten mengusung kesatuan dan persatuan bangsa.

“Nilai itu akan tetap dibawa oleh Gus Muhaimin Iskandar selaku ketua umum PKB yang saat ini mengikuti konstelasi Pilpres”, jelasnya. 

“Disinilah PKB akan terus mempererat dan merekatkan bangsa ini melalui visi perjuangannya, yakni politik kemanusiaan”, pungkasnya. 

Melansir laman resmi NU, saat itu presiden masih pegang oleh Abdul Rachmad Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Sikap Gus Dur terlihat saat memerintahkan Banser menjaga gereja-gereja di seluruh Indonesia atas nama kemanusiaan. Tragedi itu tak lepas dari situasi panas antar-agama karena konflik umat Kristen dengan Islam di Ambon tahun 1999.

Sesuai perintah itu, Riyanto dan jajaran Banser di Mojokerto pun menjaga GSJPDI Eben Haezer.

Saat melakukan penjagaan, Riyanto dan orang-orang yang berjaga mendapat laporan soal bungkusan hitam mencurigakan.

Mereka pun mendatangi lokasi penemuan bungkusan hitam itu dan mengecek isinya.

Ternyata, bungkusan itu berisi rangkaian kabel yang menyerupai bom. Riyanto lalu membawa bungkusan itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Karena masih terlalu dekat dengan ratusan jemaat gereja, Riyanto mengambil kembali bom itu untuk membuangnya ke lokasi lebih jauh.

Akan tetapi, bom itu malah meledak saat hendak dibuang. Riyanto meninggal akibat ledakan bom itu.

Sementara, para jemaat gereja dan orang-orang disekitarnya selamat. Hingga kini, banyak orang terus mengenang keberanian dan pengorbanan Riyanto.

(Gon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here