Mojokerto (transversalmedia) – Launching Pameran Lukisan dan Fotografi bertema “Merekam Realitas, Merawat Budaya” di Sunrise Mall Mojokerto tampak meriah. Pameran ini diresmikan oleh Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari bersama Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra.
Tampak hadir, Forkopimda plus Mojokerto dan pengusaha serta para OPD. Bukan hanya itu saja, hadir pula Wakil Wali Kota Mojokerto, Wakil Bupati Mojokerto, Ketua DPRD Kota Mojokerto, Ery Purwanti, Ketua PWI Jawa Timur (Lutfil Hakim), instansi vertikal, pimpinan perangkat daerah, kalangan dunia usaha, organisasi profesi wartawan, komunitas seni, fotografer, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
Suasana pembukaan diawali penampilan Tari Gebyar Barong yang dibawakan Saza, siswi kelas I SDN Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Meski masih belia, penari cilik itu tampil piawai membawakan tari kreasi tunggal hingga mendapat tepuk tangan meriah dari para tamu.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menilai tema “Merekam Realitas, Merawat Budaya” memiliki makna yang sangat relevan dengan Mojokerto sebagai wilayah pewaris peradaban Majapahit.
“Melalui lukisan maupun fotografi, kita dapat merawat sejarah, budaya, dan seni yang diwariskan para pendahulu. Jejak kebesaran Majapahit tidak hanya tersimpan dalam situs dan artefak, tetapi juga dalam rekaman kehidupan sosial, seni, dan budayanya”, katanya.
Wali Kota Mojokerto yang biasa akrab disapa, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kekuatan sumber daya manusianya dalam menjaga sejarah dan kebudayaan.
“Semangat inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Apa yang kita nikmati hari ini tidak lepas dari warisan peradaban yang dibangun leluhur kita berabad-abad lalu,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan fotografer dari berbagai daerah, termasuk anggota PFI dan pegiat fotografi dari Banyuwangi, bahkan luar Jawa Timur. Dari sisi lain ia juga menilai pameran seni tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian sekaligus merawat sejarah dan budaya daerah.
“Kalau kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, tentu akan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Mojokerto,” cetusnya.
Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra mengulas pengalaman studinya di Mesir saat menjelaskan hubungan antara seni dan peradaban.
Menurutnya, pada masa Mesir Kuno, pahatan, lukisan, dan simbol menjadi media komunikasi utama ketika sebagian besar masyarakat belum mengenal baca tulis.
“Lukisan dan pahatan menjadi media untuk menyampaikan sejarah, kehidupan masyarakat, nilai-nilai, bahkan pesan kekuasaan. Dalam konteks itu, karya visual adalah koran, buku sejarah, sekaligus media komunikasi yang mampu bertahan melampaui zaman,” ujarnya.
Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim mengaku terkesan melihat kekompakan Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang hadir bersama dalam satu kegiatan.
“Saya sudah berkeliling Jawa Timur menghadiri berbagai acara, tetapi baru kali ini melihat wali kota dan bupati hadir bersama. Ini menunjukkan kondusivitas yang sangat baik. Saya yakin kondisi seperti ini juga akan menjadi inspirasi bagi teman-teman wartawan di Mojokerto,” katanya.
Ia menilai pameran tersebut membuktikan jurnalis tidak hanya piawai merangkai fakta menjadi berita, tetapi juga mampu menghadirkan nilai melalui karya seni.
“Wartawan tidak hanya pandai merangkai kata dan fakta, tetapi juga merangkai warna. Baik melalui tulisan maupun lukisan, karya yang lahir harus menghadirkan kejujuran, kepekaan, cinta, dan makna. Seni merupakan bagian dari peradaban,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto Moh. Saifuddin mengatakan pameran ini lahir dari kegelisahan terhadap perubahan lanskap informasi di era digital.
“Hari ini media massa seperti berkejaran dengan media sosial. Siapa pun bisa mengaku wartawan dan memproduksi informasi, meski belum tentu menghasilkan berita. Melalui pameran ini kami ingin menunjukkan media massa tetap relevan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Usai sambutan, prosesi pembukaan pameran dilakukan secara simbolis melalui pembukaan tiga karya lukis yang sebelumnya dibungkus kertas polos. Prosesi tersebut menjadi penanda resmi dibukanya pameran.
Wali Kota Mojokerto membuka lukisan bertema Ratu Tribhuwana Tunggadewi, Bupati Mojokerto membuka lukisan bertema Raja Majapahit dan Punggawa, sedangkan Ketua DPRD Kota Mojokerto membuka lukisan bertema Soekarno.
Prosesi simbolis itu didampingi Wakil Wali Kota Mojokerto, Wakil Bupati Mojokerto, Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim, Koordinator Media Centre Moh. Saifuddin, pelukis Diak Eko Purwoto, serta fotografer Sofanka.
Setelah prosesi pembukaan, rombongan meninjau seluruh area pameran yang menampilkan 29 karya lukis Diak Eko Purwoto, 24 karya fotografi Sofanka dan sejawatnya, serta belasan karya fotografi hasil bidikan Diskominfo Kota Mojokerto dan Lapas Kelas IIB Mojokerto.
Pameran ini berlangsung mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 di Sunrise Mall Mojokerto.
Berbeda dengan debut tunggal Diak Eko pada penghujung 2025, kali ini pameran dikemas sebagai kolaborasi antara seni lukis, fotografi jurnalistik, dan dokumentasi budaya, menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan jurnalisme, seni rupa, dan kebudayaan di tengah ruang publik.
(Gon)

