Mojokerto (transversalmedia) – Raut bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah Supriyono, warga Tirta Suam 1, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari. Rumah yang dulunya rusak parah dengan atap lapuk nyaris roboh, kini berdiri kokoh dan nyaman dihuni bersama keluarganya.
Perubahan hidup Supriyono dan keluarganya merupakan dampak nyata dari Program Bantuan Rumah Swadaya (BRS) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang digulirkan Pemerintah Kota Mojokerto di bawah kepemimpinan Wali Kota Ika Puspitasari (Ning Ita) melalui DPUPR Perakim.
“Dulu rumah ini rusak sekali, atapnya mau ambruk. Sekarang alhamdulillah sudah sangat layak, tembok ditinggikan, jendela dan kusen pintu juga diperbaiki. Terima kasih banyak,” ungkap bapak dua anak tersebut dengan penuh syukur.
Senyum kebahagiaan juga terpancar dari Sutilah, seorang lansia warga Gang Janur, Lingkungan Sekarputih, Kelurahan Kedundung. Dulu, Sutilah harus tinggal di rumah berdinding bambu yang rapuh bersama dua cucunya. Kini, kekhawatirannya akan atap bocor dan dinding roboh sirna sudah.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada Pemkot dan Ibu Wali Kota yang sudah membantu memperbaiki rumah saya,” tutur Sutilah.
Rasa syukur serupa diungkapkan Januarto, warga Kelurahan Balongsari yang sehari-hari mengandalkan penghasilan dari berjualan es. Ia berharap program sosial seperti BRS ini terus berjalan agar semakin banyak warga yang terbantu.
Targetkan 116 Rumah Swadaya Tuntas di 2026
Sementara itu, Kabid Perumahan Rakyat dan Permukiman DPUPR Perakim Kota Mojokerto, Indra Suryadiansyah, menjelaskan bahwa program BRS merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Pemkot Mojokerto dalam mengentaskan kemiskinan.
Pada tahun 2026, Pemkot menyasar sebanyak 116 unit rumah MBR di tiga kecamatan.
“Tahap pertama sebanyak 63 unit rumah sudah rampung 100 persen. Saat ini kita sedang merampungkan tahap kedua sebanyak 53 unit, dengan target selesai pada November mendatang,” terang Indra.
Indra membeberkan, setiap penerima manfaat mengantongi bantuan stimulus senilai Rp21 juta, yang ditransfer langsung ke rekening masing-masing.
Rinciannya:
- Rp17,5 juta untuk alokasi bahan/material bangunan.
- Rp3,5 juta untuk upah tukang/tenaga kerja.
Karena sifatnya bantuan swadaya, masyarakat juga didorong berpartisipasi sesuai tingkat kerusakan rumah masing-masing. Pemkot Mojokerto pun menerjunkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) untuk mengawal dan mendampingi proses renovasi agar tepat sasaran serta sesuai juknis.
“Besaran swadaya masyarakat berbeda-beda, tergantung bagian yang direnovasi. Pendampingan lapangan terus dilakukan agar pengerjaannya aman dan transparan,” pungkasnya.
(Gon)

