Refleksi Hari Santri Nasional: Kiai Asep Saifuddin Chalim Tekankan Pentingnya Jiwa Kebangsaan dan Spirit Resolusi Jihad

Mojokerto (transversalmedia) – Peringatan Hari Santri Nasional tidak lepas dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, khususnya peristiwa tercetusnya Resolusi Jihad oleh Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober.

Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, menyampaikan bahwa Resolusi Jihad lahir sebagai bentuk komitmen ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Hari Santri Nasional tidak lepas dari fatwa Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober. Beliau sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama yang didirikan dengan tujuan utama untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar Kiai Asep.

Kiai Asep menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama dibentuk atas inisiasi para pengasuh dari sekitar 65 pesantren besar. Sejak awal, pesantren-pesantren ini mengusung dan mengajarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersifat inklusif dan moderat. Paham ini menjadi perekat persatuan bangsa yang mempermudah terwujud dan terjaganya kemerdekaan Indonesia.

“Selama ini perlawanan terhadap penjajah ada di pesantren-pesantren. Namun karena dulunya berdiri sendiri-sendiri, perlawanan tersebut mudah dilumpuhkan. Setelah berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di bawah kepemimpinan Hadratussyeikh, pesantren-pesantren bersatu sehingga Indonesia bisa meraih kemerdekaan,” jelasnya.

Fatwa Hukum Fardu ‘Ain dan Clash Fisik

Lebih lanjut, Kiai Asep mengulas peristiwa sejarah pasca-kemerdekaan ketika pasukan Sekutu tiba di Surabaya. Pada saat itu, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang menegaskan bahwa membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan yang baru berusia 2,5 bulan hukumnya adalah fardu ‘ain, serta gugur dalam pertempuran tersebut dinilai mati syahid.

“Kiai Hasyim Asy’ari memilih jalan clash fisik ketimbang diplomasi yang bertele-tele, karena jika diplomasi terus-menerus dikawal dengan ancaman senjata oleh pihak musuh, kita tidak akan pernah menang,” tegas Kiai Asep.

Ia menambahkan, pertempuran Surabaya pada 10 hingga 20 November memakan korban jiwa sebanyak 30.000 hingga 40.000 rakyat dan pejuang Indonesia, sebagaimana tercatat dalam surat kabar The New York Times edisi 12 November kala itu.

Kiai Asep juga menyoroti peran penting Kiai Abbas Abdul Jamil dari Cirebon. Saat Bung Tomo meminta petunjuk waktu penyerangan, KH. Hasyim Asy’ari meminta untuk menunggu kedatangan Kiai Abbas Abdul Jamil. Setelah Kiai Abbas tiba pada 9 November, diputuskanlah penyerangan dimulai pada 10 November.

Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional

Dalam momentum Hari Santri ini, Kiai Asep juga menyampaikan dukungannya terhadap pengusulan Kiai Abbas Abdul Jamil dan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional. Berdasarkan penelitian Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GD), kedua tokoh tersebut dinilai sangat memenuhi syarat berdasarkan sumber-sumber sejarah primer yang lengkap.

Kiai Asep berharap penetapan gelar pahlawan tersebut didasarkan murni pada hasil kajian ilmiah dan akademis dari TP2GD tanpa adanya intervensi atau subjektivitas politik.

Mengakhiri keterangannya, Kiai Asep mengajak seluruh santri dan masyarakat untuk meresapi serta menjiwai nilai-nilai perjuangan para pendahulu. Beliau berharap spirit Hari Santri ini dapat diwujudkan dalam kontribusi nyata untuk membangun daerah, dimulai dari miniature keberhasilan di Mojokerto menuju Indonesia yang maju, adil, dan makmur.

(Gon)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terpopuler